Pimpin Apel Kebangsaan Pelajar di Alun-alun Purwokerto, Ganjar Sampaikan Tentang Kediktatoran Gadget
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memimpin apel kebangsaan pelajar di alun-alun Purwokerto, Jumat (18/10/2019).

Lebih dari 5.000 pelajar dari berbagai SMA, SMK, MA, SMP, MTS berkumpul dalam rangka membangun rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

Dalam sambutannya, Ganjar menyampaikan bahwa momentum apel ini jarang terjadi, selain mengasah rasa dan pikiran, para pelajar juga diminta untuk selalu menjaga kejernihan berpikir.

VIDEO

"Anda yang besok menyelesaikan persoalan bangsa ini, dan berbicara bagaimana 300 juta bangsa Indonesia harus makan.

Selain itu menyediakan air dan kebutuhan hidup, dan bagaimana menjaga hubungan antara kalian dengan pemerintah dan rakyatnya," ujar Ganjar Pranowo.

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar juga sempat menyinggung tentang makna dari kediktatoran gadget dikalangan pelajar.

"Hampir seluruh pelajar begantung pada gadget.

Hampir semua menggunakan media sosial, pasti kalian disini mempunyai akun instagram, facebook," kata Ganjar.

Media sosial bisa sangat mempengaruhi pelajar karena mereka adalah mangsa yang paling empuk dengan berita-berita hoax.

"Bahkan berita beberapa hari yang lalu banyak pelajar yang masuk RS jiwa karena sudah keseringan bermain gadget dan game," imbuhnya.

Menurutnya tantangan-tantangan seperti itulah banyak diselipi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Seperti yang akhir-akhir ini terjadi yaitu pengibaran bendera HTI di SMK N 2 Sragen.

"Mereka yang punya pesan-pesan tertentu, karena ini adalah pertarungan ideologis, yang akan merontokan bangsa dan negara.

Kita sudah cek anak-anaknya dan mereka mengaku tidak tahu, guru-guru juga kita tanyai, dan masih kita dalami," tambahnya.

Oleh karena itu Ganjar berpesan kepada para guru dan kepala sekolah untuk sama-sama menjaga dan menanamkan toleransi.

Selain itu marak pula di kalangan pelajar tentang bullying hingga ajaran yang tidak sesuai ajaran negara.

Contohnya ada anak yang meninggalkan orang tuanya, murid yang tidak hormat terhadap gurunya, kekerasan, bahkan pornografi yang ditonton bahkan di video.

"Kalau kita tidak punya nilai-nilai Pancasila maka kita akan rontok," pungkasnya. (Tribunjateng/jti)