Perkosa dan Bunuh Gadis di Jerman, Pengungsi Irak Dibui Seumur Hidup
Ali Bashar, 22, (kiri), pengungsi asal Irak dan Susanna Maria Feldman, 14, gadis Jerman yang dibunuh. Foto/Daily Stormer

WIESBADEN

- Seorang pria pengungsi asal Irak dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan Jerman pada hari Rabu atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis remaja. Kasus pembunuhan ini pernah memicu protes kelompok sayap kanan terhadap gelombang migran Muslim di negara Eropa tersebut.

Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) dan kelompok sayap kanan lainnya telah menjadikan pembunuhan brutal yang dialami Susanna Maria Feldman, 14, sebagai kampanye untuk melawan kebijakan suaka Kanselir Angela Merkel.

Terdakwa, Ali Bashar, 22,—yang pengajuan suakanya ditolak pemerintah Jerman—dinyatakan bersalah atas pembunuhan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Wiesbaden, kota tempat pembunuhan itu terjadi pada Mei tahun lalu.

Hakim Juergen Bonk mengatakan kejahatan yang dilakukan terdakwa sangat parah, yang berarti bahwa Bashar tidak akan diberikan pembebasan bersyarat setelah 15 tahun menjalani hukuman penjara.

Bashar memukuli, memerkosa, dan mencekik korban hingga tewas di daerah berhutan dekat rel kereta api pada 23 Mei.

Pengadilan, seperti dikutip

AFP,

Kamis (11/7/2019), mendengar kesaksian bahwa terdakwa mengirim pesan palsu dari telepon pintar Susanna yang mengindikasikan bahwa gadis itu telah pergi untuk perjalanan dadakan ke Paris.

Tubuh korban ditemukan pada 6 Juni di kuburan dangkal yang ditutupi dengan daun, ranting dan tanah.

Sejak itu, Bashar dan keluarganya telah meninggalkan Jerman dan kembali ke Erbil, Irak utara. Namun, terdakwa ditangkap oleh pasukan keamanan Kurdi dan—meskipun Berlin dan Baghdad tidak memiliki perjanjian ekstradisi resmi—dibawa kembali ke Jerman.

Kepala polisi federal Dieter Romann secara pribadi bergabung dengan operasi kontroversial itu, ketika halaman depan surat kabar menunjukkan gambar-gambar pasukan komando yang mengawal Bashar yang sangat terkendali dari sebuah pesawat.

Bashar kemudian mengakui pembunuhan itu tetapi membantah melakukan pemerkosaan. Dia mengklaim ia dan korban melakukan hubungan seksual konsensual. Bashar menjadi marah ketika hubungan mereka rudak dan korban mengancam akan menghubungi polisi.

Dalam pengadilan terpisah, Bashar dituduh dua kali memerkosa seorang gadis berusia 11 tahun, yang diyakini juga telah mengalami pelecehan seksual oleh seorang pemuda Afghanistan.

Kasus Bashar memberi tekanan baru pada pemerintah Merkel atas keputusan untuk menjaga perbatasan Jerman di puncak krisis pengungsi Eropa.

Kelompok sayap kanan telah menyuarakan kemarahan tentang kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh migran baru dan warga negara asing lainnya—termasuk serangan massal di Cologne pada Malam Tahun Baru 2015-2016, dan pada bulan April tahun ini.

Ibu Susanna, Diana Feldmann, yang berpakaian hitam selama persidangan digelar terlihat menangis saat pengadilan mendengar rincian mengerikan dari kejahatan tersebut.