Iran dan Rusia Kompak Cela AS di Pertemuan Pengawas Nuklir PBB
Iran dan Rusia mencela seruan AS agar Teheran mematuhi perjanjian nuklir 2015 dalam pertemuan khusus IAEA. Foto/Ilustrasi/Sindonews/Ian

WINA

- Iran dan Rusia mencaci maki seruan Amerika Serikat (AS) agar Teheran mematuhi batasan-batasan dalam kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia pada pertemuan khusus badan pengawas nuklir PBB.

Pertemuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) diminta oleh AS setelah pekan lalu Iran mengkonfirmasi telah melebihi persediaan uranium yang diperkaya yang diizinkan berdasarkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015.

Duta Besar AS untuk Organisasi Internasional di Wina, Jackie Wolcott, pada pertemuan itu mengatakan Iran terlibat dalam apa yang dikatakannya sebagai pemerasan nuklir.

Iran telah mengatakan akan mengabaikan batasan tertentu di bawah JCPOA selama pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan - khususnya Inggris, Prancis dan Jerman - tidak berbuat lebih banyak untuk mengurangi dampak sanksi AS. AS menjatuhkan sanksi kepada Iran setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan itu pada Mei 2018.

"Tidak ada cara untuk membaca ini selain upaya kasar dan transparan untuk memeras bayaran dari komunitas internasional," kata Wolcott seperti dikutip dari

AFP

, Kamis (11/7/2019).

Menanggapi hal itu, utusan Iran Kazem Gharib Abadi mengatakan adalah sebuah ironi yang menyedikan bahwa pertemuan tersebut diadakan atas permintaan AS. Menurutnya kebuntuan saat ini adalah hasil dari perilaku melanggar hukum AS dan mengutuk apa yang disebutnya sebagai kecenderungan sadis AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Sementara Duta Besar Rusia untuk IAEA, Mikhail Ulyanov, setelah pertemuan itu mentweet AS praktis terisolasi terkait masalah ini. Ia mengatakan aneh bahwa pertemuan itu diserukan oleh AS, negara yang menyatakan JCPOA sebagai kesepakatan yang mengerikan.

"Dalam praktiknya, ternyata Washington sadar akan pentingnya Rencana (JCPOA)," katanya.

Negara-negara Eropa yang terlibat dalam kesepakatan itu berusaha untuk menyelamatkan JCPOA melalui upaya diplomatik.

"Dukungan kami yang berkelanjutan (untuk JCPOA) bergantung pada Iran yang mengimplementasikan komitmennya secara penuh," bunyi pernyataan bersama Jerman, Prancis dan Inggris dalam pertemuan itu.

"Kami percaya masalah yang ada harus ditangani oleh para peserta JCPOA, termasuk melalui pertemuan Komisi Gabungan yang akan segera diselenggarakan," sambung pernyataan itu.

Menyusul pelanggaran batas persediaan uranium, pada hari Senin IAEA juga mengkonfirmasi bahwa Iran telah melanggar batas pengayaan uranium yang ditetapkan JCPOA sebesar 3,67 persen.

Sumber diplomatik mengatakan pada hari Rabu bahwa IAEA telah mengkonfirmasi pernyataan Iran awal pekan ini bahwa negara itu memperkaya 4,53 persen, jauh di bawah tingkat 90 persen yang menurut para ahli diperlukan untuk melengkapi senjata nuklir.