Hari Museum Nasional: Bersama Museum Membangun Ketangguhan Bangsa
Yogyakarta: Puncak peringatan Hari Museum Nasional digelar di Yogyakarta, Selasa 13 Oktober 2021. Acara yang digelar secara daring itu menjadi acara puncak dari rangkaian Peringatan 50 Tahun Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY sejak pekan lalu.

Sebelum puncak peringatan Hari Museum Nasional, beragam kegiatan telah digelar dalam rangka Hari Museum Nasional. Di antaranya, pembukaan Festival Museum Yogyakarta, webinar, dan peluncuran situs web Barahmus DIY. Seluruh rangkaian diikuti pecinta dan penggiat museum baik lokal, nasional, dan internasional.

 

Dalam sambutannya, Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana mengatakan peristiwa sejarah adalah memori semangat perjuangan yang terekam dan tersimpan rapi di museum.

"Kini museum menghadirkan dan menceritakan kembali semua kisah agar generasi muda mengetahui sejarah bangsanya," kata Supadma dalam sambutannya secara virtual pada puncak peringatan Hari Museum Nasional di Yogyakarta, Selasa 12 Oktober 2021.

Supadma yang juga Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Demokrat dari Dapil Bali mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir museum di Indonesia telah memperlihatkan ketangguhannya melawan dampak pandemi. Museum merespons masa sulit penuh ketidakpastian sebagai sebuah tantangan dengan cara berbeda. Museum memastikan tugas utamanya tetap berjalan memberi edukasi dan misi pelestarian.

Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana

Selain itu, penggiat seni asal Ubud, Gianyar ini menerangkan museum berdamai dengan keadaan melakukan berbagai inovasi dan pengemasan ulang program dan layanannya. "Museum memanfaatkan teknologi informasi agar selalu dekat dan mudah diakses masyarakat secara digital untuk mengobati kerinduan para pengunjung, penikmat seni dan penggiat museum," kata Supadma.

Supadma memandang museum juga menyajikan identitas melalui presentasi warisan, mempromosikan pluralitas, dan keragaman identitas. Secara khusus museum menceritakan keragaman bangsa, menampilkan identitas etnis kelompok maupun personal, mengajarkan, mempelajari, dan mendalami budaya lain untuk menghindari konflik demi menjaga persatuan kesatuan bangsa.

Hari Museum Nasional 12 Oktober 2021, Begini Sejarahnya

Melalui pameran dan program kegiatan, museum dapat memberikan banyak inspirasi menghubungkan masa kini dengan masa lalu sebagai ruang refleksi yang memberikan pandangan untuk masa depan. Museum juga dapat mengubah cara berpikir dan berperilaku seseorang.

Di masa pandemi covid-19, lanjut Supadma, museum bahkan memperkuat sensibiltas sosial berkontribusi terhadap perubahan sosial yang lebih baik dengan mengangkat isu yang relevan dengan masa kini. Baik multikulturarisme, perempuan, lingkungan dan kesehatan sehingga dalam konteks yang luas museum berperan membangun ketangguhan bangsa.

"Perayaan Hari Museum adalah perayaan seluruh rakyat Indonesia, semoga museum terus tumbuh dan semakin tangguh dalam menggapai cita-cita bangsa. Salam museum di hatiku," kata Putu.

Sementara, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya mengatakan, sejak masa sekolah tidak asing mendengar kata museum, namun kedekatan kosakata museum tidak paralel dengan minat kunjungannya.

"Mungkin karena museum terkesan sebagai tempat tumpukan peninggalan sejarah yang lusuh dan berdebu sehingga para siswa lebih memilih berkunjung ke mall atau cafe," kata Gubernur Sri Sultan.

Sri Sultan menyebut, persoalan klasik museum yakni rendahnya kunjungan karena museum kurang aspiratif, atraktif, dan tidak menghibur. Selain fungsi edukatifnya kurang tergarap baik. Gelombang kunjungan terbesarnya adalah kelompok "paksawan" yaitu siswa yang dipaksa mengikuti program studi tour sehingga diperlukan strategi mediasi dan sosialisasi dengan mengikuti karakteristik pengunjung berupa pameran tematik museum sebagai wisata edukasi.

Namun di masa kini museum berfungsi sebagai syarat dokumentasi dan pusat penelitian ilmiah, penikmat seni, pengenalan seni dan budaya, obyek wisata, media pendidikan Iptek dan seni, suaka alam dan budaya serta sarana bertakwa kepada Tuhan.

Namun betapa pentingnya fungsi museum tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh pola pengajaran sejarah. Padahal menurut Gubernur DIY, pelajaran sejarah bukan hanya masalah pengetahuan masa lalu saja tetapi juga melihat masa lalu agar dimaknai untuk memetakan masa depan sebagai bagian pembentukan karakter pembangunan bangsa.

"Bung Karno pernah mengingatkan jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Karena itu kita khawatir jika distorsi sejarah masuk dalam mata ajar di sekolah," tegasnya.

Oleh karena itu Gubernur menyarankan, agar pelajaran sejarah bisa lebih meresap harus merekonstruksi ingatan historis dan membangkitkan ingatan kolektif. Metode pembelajaran satu arah hanya merekonstruksi ingatan historis, sehingga siswa menjadikan pelajaran sejarah hanya sebagai fakta hapalan tanpa minat untuk memaknainya.

"Saya berharap museum menjadi jembatan informasi edukatif bagi warga masyarakat bangsa Indonesia," harapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia 50 Tahun Barahmus DIY, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, menjelaskan berbicara museum tidak bisa dilepaskan dari Yogyakarta sebagai Kota Budaya. Yogyakarta digunakan lokasi oleh para tokoh nasional untuk melaksanakan musyawarah pertama membahas museum tahun 1962.

"Itu merupakan sebuah tonggak sejarah bagi dunia permuseuman nasional Indonesia," pungkasnya.

(ALB)