Berkat Perjanjian Perdagangan, Ekspor Otomotif Indonesia Meningkat
JAKARTA, KOMPAS.com – Tren ekspor produk otomotif Indonesia pada semester pertama 2019 menunjukan perkembangan signifikan. Meski pasar dalam negeri tengah lesu, namun pengiriman kendaran utuh ke luar negeri malah meningkat.

Mengutip data ekspor kendaraan CBU (Completely Built Up) yang dikeluarkan Gaikindo, selama periode Januari – Juli 2019, Indonesia telah mengirim 169.390 unit ke seluruh dunia. Padahal periode sama tahun sebelumnya, hanya meraih 137.562 unit.

Menurut Tenaga Ahli Bidang Perjanjian Internasional Kementerian Perdagangan Rico Nugrahatama, tujuan ekspor otomotif Indonesia paling banyak ke negara- negara di kawasan ASEAN.

Baca juga: Ekspor Sepeda Motor Januari-Agustus 2019 Cetak Torehan Tertinggi

KOMPAS.com / Gilang Satria Ekspor

Perdana Wuling Almaz

“Ke ASEAN FOB (Free on Board)-nya paling besar, valuasinya terbesar. Mencapai 1,6 miliar dolar AS per tahun dengan tujuan ke Filipina, Thailand, Vietnam, dan Myanmar,” katanya saat ditemui Kompas.com dalam acara Business Seminar IIMS 2020 Rabu (25/9/2019).

Rico berujar, hal ini merupakan imbas dari skema Asean Free Trade Area (AFTA). Di mana ada kesepakatan antara negara-negara di kawasan untuk membebaskan tarif ekspor atau impor.

Sementara dengan negara-negara di luar ASEAN, Indonesia juga telah menjadi kerja sama dalam bentuk Prefential Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement FTA, atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk meningkatkan ekspor otomotif.

Baca juga: Ekspor Otomotif Indonesia Tumbuhkan Tren Positif

“Pada intinya PTA dan FTA adalah perjanjian perdagangan bebas antar negara untuk mengurangi hambatan perdagangan baik itu tarif atau non tarif,” ujar Rico.

Rico juga mengatakan, Indonesia sendiri saat ini telah memiliki beberapa jenis perjanjian dagang dengan beberapa negara di luar kawasan Asean. Seperti dengan Cina, Jepang, Pakistan, Palestina, Cile, India, dan Korea Selatan.

"Ke depannya juga telah ada 11 perjanjian perdagangan yang berpeluang besar disetujui, dan 13 perjanjian dengan negara-negara di dunia yang masih dalam negosiasi," ucapnya.