Berkali Gagal, Akhirnya Yusman Afandi Berhasil Ciptakan Parfum Mobil Beraroma Kopi Asli Lampung
Laporan Reporter Tribun Lampung Eka Ahmad Sholichin

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Provinsi Lampung sudah terkenal dengan produksi kopi dengan kualitas baik.

Berkaca dari itu, pria asal Lampung Yusman Afandi tidak menyia-nyiakan hal tersebut.

Dari tangan dinginnya, kopi asal Lampung dimodifikasi menjadi parfum pengharum beraroma kopi yang dapat difungsikan baik di mobil, ruangan, dan lainnya.

Ingin tahu bagaimana kisahnya?

Tribun Lampung akhirnya mencoba mengulik kisahnya dengan mendatangi tempat usahanya yang beralamat di Jalan Pulau Damar Nomor 63, Waydadi, Sukarame, Bandar Lampung.

"Ya awalnya saya melihat peluang usaha ini karena sebelumnya saya sudah menjual merek lainnya (yang sudah terkenal) dengan kuantiti yang lumayan besar yaitu sudah mencapai 6-7 ribu pis," kata Yusman Afandi, Direktur Utama Kopi Krakatau Lampung Gunung Anak Krakatau (GAK) saat mengawali ceritanya, Rabu (10/7/2019).

"Kan rasanya miris merek itu dari luar daerah, sementara kita ini lumbungnya kopi di Indonesia. Siapa gak tahu? Hanya sekedar parfum kopi kok kita belinya dari luar.Meskipun sama-sama dari Indonesia kenapa gak kita kembangkan sendiri kopi Lampung kita ini," sambungnya.

Ia menuturkan parfum kopi merek lain itu selain dijual juga dipakai sendiri dan ketika dilihat komposisi dan cara kerjanya sepertinya ini bisa dicoba dibuat sendiri meskipun begitu buat gagal-gagal terus.

• Parosil : Indonesia Negeriku, Lampung Barat Kopiku

Kalau untuk gagal kecil dari mulai coba sebungkus dua bungkus itu sudah tidak terhitung.

Tapi gagal besar itu sudah tujuh kali dengan sudah memproduksi berapa ratus piece.

"Oh ternyata salah, rubah lagi buka dan bongkar lagi bungkusnya tidak sesuai. Kita tes sendiri dan setelah enam sampai tujuh kali, Alhamdulillah sudah dapat yang pas. Dan dengan kualitas sekarang dari mulai wangi dan ketahanan wangi itu kita sudah bisa bersaing lah secara nasional," katanya.

Cara menemukan aroma pas memang menggunakan insting karena dirinya juga sebagai penikmat minuman kopi sehingga sesuai selera yakni aroma yang natural.

"Kalau pengopi pasti tahu lah insting kopi seperti apa. Itu dibantu kawan- kawan juga sesama penikmat kopi minta masukannya. Nah untuk menemukan aroma sampai yang pas butuh waktu sebulan mulai aroma dan ketahanannya," kisahnya.

Ia juga mengaku sempat melakukan uji coba parfum beraroma kopi buatannya di mobil sendiri untuk mengetahui bertahan berapa hari dan ketika sudah fix akhirnya mulai dipasarkan.

"Launchingnya baru seminggu ini dan baru mulai dua minggu ini dan Alhamdulillah responnya luar biasa peminatnya," katanya.

Pertama kali pasarkan di Lampung langsung menggelegar peminatnya dan coba tes ke Jakarta juga bisa diterima dan rombongan kawan-kawan dari Surabaya sudah mulai ada pesanan namun belum bisa dipenuhi karena jumlahnya masih terbatas.

"Pertama kali produksi itu dengan jumlah 1500 pis dan dua hari habis dipasarkan secara online di Facebook dan Instagram dan lewat offline," paparnya.

• Jelang Festival Kopi, Kadisbun Lambar Dorong Petani Tingkatkan Kualitas Kopi Robusta

Kalau untuk online secara marketplace contoh tokopedia dan shopee kemungkinan seminggu lagi karena kawan-kawan dari Jakarta baru dikirim semua dan mereka sudah memiliki toko di marketplace.

"Kalau Instagram saya pribadi bang_iyuz dan facebook Grosir Bang Iyuz. Tetapi saya ada reseler dan sudah bisa didapatkan di facebook seluruh Lampung yaitu facebook ibu-ibu online. Nah kalau offline bisa didapatkan di Jl. Pulau Damar Nomor 63 Waydadi Sukarame Bandar Lampung," paparnya.

"Nah dari situ markasnya di sana dan pecahnya di pedagang-pedagang online dan warung-warung kecil sudah mulai ada stok," lanjutnya.

Lanjutnya tempat produksinya untuk saat ini di daerah Tanjungan, Lampung Selatan dengan jumlah rata-rata produksi 2-3 ribu piece perharinya dengan dibantu sebanyak lima karyawan.

"Ya investasi awal sekitar Rp 10 juta ketika pesanan sudah banyak lagi nambah Rp 10 juta sehingga totalnya Rp 20 juta. Biaya besarnya itu sebenarnya bukan di kopi tapi beli sarungnya/wadah yang harus PO dari luar Lampung," tuturnya.

Kopi sebagai bahan dasar diambil dari petani di daerah Babatan Lampung Selatan dan menang setiap daerah memiliki cita rasa berbeda-beda. "Mungkin nanti kita kedepannya akan ambil dari arah Liwa dan wilayah lainnya di Lampung ," paparnya.

Jenis kopi menggunakan robusta karena memang jenis robusta ini untuk wanginya memang lebih cocok dijadikan sebagai bahan parfum.

Kelebihan usaha menggunakan bahan dasar kopi ini gagalnya tidak terlalu merugi misal mungkin kurang garing maka yang ada dapat didaur ulang dengan digaringkan lagi.

"Kemudian awalnya untuk bungkus plastik di awal gak tebal maka kita tebalkan supaya aroma wanginya tersimpan dulu. Jadi tidak ada kerugian materi yang terlalu besar karena kerugian itu bisa didaur ulang lagi," katanya.


• Gubernur akan Buka Festival Kopi, Mantan Menpan Lantik Dekopi Lampung. Inilah Agenda Festival Kopi!

Harga parfum beraroma kopi ini cukup terjangkau yaitu Rp 15 ribu/piece dan harga grosir Rp 10 ribu/piece minimal pembelian lima pis dengan berat 20 gram.

"Harapan saya kan kedepannya minimal tidak mengurangi kualitas itu dalam posisi aman. Dan kalau bisa kualitasnya kan lebih lagi dengan terus berinovasi mencari komposisi apa penambahan supaya bertahan wanginya," ucapnya.

Ia juga memiliki keinginan bahwa kedepannya jangan sampai kendala di orang produksi ketika order membludak mereka keteter sehingga tiba-tiba kualitas tidak dijaga.

"Kita usaha ini slow tapi pasti maka kita untuk saat ini penuhi dulu kebutuhan di Lampung dan Jakarta baru nanti harapannya bisa secara nasional," pungkasnya.

VIDEO

(Tribunlampung.co.id/Eka Ahmad Sholichin)